Playboy Indonesia mulai beredar
Jurubicara majalah itu, yang berjanji untuk menghaluskan foto-foto erotisnya, mengatakan, Playboy edisi Indonesia akan tersedia di sejumlah kota besar hari Jumat.
Peluncuran ini menuai kecaman dari para ulama muslim, yang mengutuk majalah itu sebagai pengaruh yang membobrokkan moral.
Beberapa waktu lalu, unjukrasa terjadi di sejumlah kota saat majalah itu diumumkan akan diedarkan.
Majalah itu tidak memuat foto wanita telanjang dan foto-fotonya kurang cabul jika dibandingkan dengan foto-foto dalam majalah serupa yang telah beredar di Indonesia, kata fotografer dari kantor berita Associated Press, yang telah melihat isi edisi perdana Playbody.
Namun, Majelis Ulama Indonesia tetap menunjukkan sikap menentang.
![]() | |
| Sebagian warga muslim marah dengan peluncuran Plyaboy |
"Kami menolak majalah Playboy, sebab itu adalah simbol pornografi," kata Maruf Amin dari MUI kepada Associated Press.
"Dengan bersikukuh terbit, mereka menantang penentangan masyarakat," tambahnya.
Laku
Sebagian warga muslim beberapa kali berunjukrasa untuk menyuarakan penentangan mereka, sejak Playboy edisi Indonesia diumumkan akan beredar.
Lepas dari penentangan berbagai pihak, sejumlah pengecer koran dan majalah harian Jumat pagi mengaku telah menjual beberapa eksemplar Playboy.
Pada Jumat sore, banyak pedagang koran dan majalah di Jakarta mengaku kehabisan atau sudah menjual puluhan eksemplar Playboy. Dilaporkan edisi perdana majalah ini dicetak sebanyak 100 ribu eksemplar.
Dalam edisi pertama, model perdana Playboy Indonesia Andara Early, meski berpose cukup sensual tetap tak melepas busananya.
Meski tak ada foto telanjang belum dianggap cukup Ketua PP Muhamadiyah Din Syamsudin.
Din Syamsudin mengatakan, tidak adanya foto-foto vulgar adalah taktik penerbit untuk edisi pertama. Tapi tak ada yang bisa menjamin isi majalah akan tetap sama di edisi kedua dan ketiga.
. Bahkan, Front Pembela Islam (FPI) sudah melakukan aksi dengan mendatangi kantor redaksi Playboy di kawasan Jakarta Selatan.
by: BBC Indonesia





Comments